Hadist tentang Pujian (menyanjung-nyanjung) Manusia

Nabi shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Berhati-hatilah dalam memuji (menyanjung-nyanjung), sesungguhnya itu adalah penyembelihan." (HR. Bukhari)

Nabi shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung." (HR. Muslim)

Hadis riwayat Abu Musa radhiallahu 'anhu, ia berkata:
Nabi shalallahu 'alaihi wassalam mendengar seorang memuji orang lain secara berlebih-lebihan, maka beliau bersabda: "Sungguh kamu telah membinasakannya (atau telah memotong punggung orang itu)." (Shahih Muslim)

Hadist riwayat Abu Bakrah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam, maka beliau bersabda: "Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu!" Beliau mengucapkannya berulang-ulang.

Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: "Aku mengetahui kebaikan si Fulan, namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya." (Shahih Muslim)


Ini adalah kaidah asal (tentang puji-memuji) bagi kaum muslimin. Ketika pujian itu ditujukan kepada orang yang masih hidup, maka dikhawatirkan akan membuka pintu riya' maupun ujub (bangga diri) bagi orang yang dipuji maupun yang memuji. Karena sungguh hati manusia itu sangat lemah, bisa terbolak balik dalam sekejap. Oleh karena itu hendaknya berhati-hati dalam menyanjung manusia. Karena tidak ada satupun manusia yang aman dari riya', ujub, sombong dan berbagai penyakit hati lainnya. Itu bisa jadi musibah gugurnya pahala amal kita.

Sedikitnya ada dua resiko ketika kita memuji orang secara berlebihan. pertama, orang yang kita puji menjadi riya' dan berbangga diri. kedua, kita yang memuji seolah terlalu merendahkan diri di depan makhluk.

Adapun memuji orang yang sudah meninggal, maka perkaranya lebih ringan, karena dia sudah terbebas dari sifat riya' dan ujub. Hal ini sering dilakukan para Ulama terdahulu, bahkan ini penting untuk menunjukkan keutamaan orang itu ketika masih hidup, sehingga layak dijadikan panutan. Karena fitrah manusia butuh panutan. Ketika para Ulama memuji tentang seseorang, maka itu melazimkan sebagai rekomendasi Ulama agar orang awam menjadikan seseorang yang dipuji itu sebagai teladan.

Beda perkaranya jika yang dipuji adalah anak kecil, karena anak kecil terkadang butuh sanjungan sebagai motivasi agar dia lebih baik, maka itu tidak mengapa. Wallahu a'lam

0 Response to "Hadist tentang Pujian (menyanjung-nyanjung) Manusia"

Post a Comment

Jangan nyepam ya..