Sabtu, 26 Februari 2011

Potonglah Kumis dan Panjangkanlah Jenggot

Nabi shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Potonglah kumis dan panjangkanlah jenggot."  (Shahih Muslim) 

Banyak sekali hadis yang senada dengan hadis di atas, menandakan betapa pentingnya perintah tersebut. Bagi umat Muslim, satu hadis shahih hendaknya sudah cukup untuk menjadi rujukan.

Tidak perlu dipertanyakan lagi mengenai hukum memelihara jenggot. Jangan memperdebatkan sesuatu yang sudah pasti.

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka..." (Ali Imran: 105)

Jenggot adalah identitas muslimin, selayaknya jilbab sebagai identitas muslimah. Jenggot merupakan lambang kejantanan dan kedewasaan kaum muslimin. Juga sebagai sarana untuk tidak bertasyabuh (meniru) kaum kafir.


Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Sungguh kamu sekalian akan mengikuti sunah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka masuk ke dalam sarang biawak kamu sekalian pun akan mengikuti mereka." Kami (para sahabat) bertanya:  "Wahai Rasulullah! Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?" Beliau menjawab:  "Lalu siapa lagi selain mereka." (Shahih Muslim)

Salah satu kebiasaan kaum kafir adalah memelihara kumis dan memangkas jenggot. Kemudian sebagian kaum muslimin malah meniru mereka sedangkan peringatan Nabi shalallahu 'alaihi wassalam telah jelas.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: 
"Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka." (HR. Abu Dawud)


Betapa banyak Ulama terdahulu yang bahkan menolak berada satu ruangan dengan pemuda amrad, yaitu pemuda "cantik" yang tidak berjenggot. Lantas kenapa kaum muslimin sekarang berlomba-lomba untuk berpenampilan seperti artis-artis korea.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda: "Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah." Para sahabat lalu bertanya: "Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?" Beliau lalu menjawab: "Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Allahu a'lam, mengapa para muslimin enggan memelihara jenggot. Para orang tua, om-om bahkan lebih memilih memelihara kumis untuk menunjukkan kematangannya (kedewasaannya) daripada memanjangkan jenggot. Bukankah ini bertentangan dengan petunjuk Nabi shlalallahu 'alaihi wasallam? 

Kita terkadang menjumpai seorang pemuda yang memelihara jenggot justru malah dianggap aneh, menjadi bahan olokan teman-temannya sesama muslim. sedangkan memelihara jenggot adalah perintah Nabi shalallahu 'alaihi wassalam.

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Sesungguhnya bermula datangnya Islam dianggap asing (aneh) dan akan datang kembali asing . Namun berbahagialah orang-orang asing itu." Para sahabat bertanya:  "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud orang asing (aneh) itu?" Lalu Rasulullah menjawab: "Orang yang melakukan kebaikan-kebaikan di saat orang-orang melakukan kerusakan." (HR. Muslim)


Kenapa kita tidak memelihara jenggot saja di saat orang lain mulai meninggalkan perintah Rasulullah dan fitrah sebagai seorang laki-laki ini? Amalan spesial adalah amalan dimana orang banyak yang meninggalkan. Siapa tau seluruh dosa kita diampuni gara-gara (hanya) memelihara jenggot. 

Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
"Orang yang berpegangan kepada sunahku pada saat umatku dilanda kerusakan maka pahalanya seperti seorang syahid."  (HR. Ath-Thabrani)

Siapa yang mau pahala syahid? Pertanyaan retoris.

Rabu, 16 Februari 2011

Beberapa Hadist Palsu dan lemah yang Populer di Indonesia

Hadist I  tentang cinta tanah air

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman”

Kualitas Hadits : MAWDLU' (PALSU)
 

Hadis II tentang nabi pertama

“Aku (Rasulullah) adalah Nabi Paling Pertama Diciptakan Dan Paling Akhir Dibangkitkan (diutus).”

KUALITAS HADITS : Ini hadits DHA’IF (LEMAH)
 

Hadis III tentang syahwat

Silsilah Hadits-Hadits Masyhur-13 (Syahwat Wanita Berlipat Ganda Atas Syahwat Laki-Laki?)
"Sesungguhnya syahwat (seksualitas) kaum wanita berlipat ganda melebihi syahwat kaum laki-laki"

"Wanita dilebihkan atas laki-laki sebanyak sembilan puluh sembilan kenikmatan (seksualitas) akan tetapi Allah Ta’ala melemparkan sifat malu pada mereka"

Kualitas hadits : MAWDHU’ (PALSU),


Related Post:
  1. Hadis Lemah tentang Thalaq (Talak) Cerai
  2. Hadist Palsu dan Lemah tentang Qurban dan Tidur Sore Setelah Ashar