Minggu, 26 Juni 2011

Kisah 3 Orang Bani Israel (Kulit Belang, Kepala Botak dan Buta)

Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

Sungguhnya ada tiga orang Bani Israel, seorang berkulit belang, seorang berkepala botak dan yang lain matanya buta. Allah ingin menguji mereka, maka Dia mengirim malaikat. 

Malaikat ini mendatangi orang yang berkulit belang.

Dan malaikat bertanya: "Apa yang paling kamu sukai?"
Orang itu menjawab: "Warna (kulit) yang bagus, kulit yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku."

Malaikat tersebut mengusap tubuhnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi warna yang bagus dan kulit yang indah. 

Malaikat bertanya lagi: "Harta apa yang paling kamu senangi?"
Orang itu menjawab: "Unta" (atau sapi, periwayat hadis ini (yaitu Ishak) ragu tentang itu)

Lalu ia diberi unta yang hampir melahirkan.

lalu malaikat berkata: "Semoga Allah memberkahinya untukmu."

Kemudian ia mendatangi orang yang botak.

Lalu (malaikat) bertanya: "Apa yang paling kamu sukai?"
Orang itu berkata: "Rambut yang indah dan sembuhnya penyakit yang membuat orang jijik kepadaku."

Malaikat mengusapnya, maka penyakitnya sembuh dan ia diberi rambut yang indah. 

Malaikat bertanya lagi: "Harta apa yang paling kamu senangi?"
Ia menjawab: "Sapi."

Maka ia diberi sapi bunting.

Lalu malaikat berkata: "Semoga Allah memberkahinya untukmu."

Kemudian malaikat mendatangi yang buta, 

Lalu (malaikat) bertanya: "Apa yang paling kamu sukai?"
Ia menjawab: "Allah mengembalikan penglihatanku, sehingga aku dapat melihat manusia."

Maka Malaikat mengusapnya, sehingga penglihatannya kembali normal. 

Malaikat itu bertanya lagi: "Harta apa yang paling kamu sukai?"
Ia menjawab: "Kambing."

Maka ia diberi kambing yang beranak. 

Selanjutnya semua binatang yang diberikan itu beranak-pinak sehingga orang yang berpenyakit belang dapat mempunyai unta satu lembah, yang botak mempunyai sapi satu lembah dan yang asalnya buta memiliki kambing satu lembah. 

Pada suatu ketika malaikat kembali mendatangi orang yang berpenyakit belang dalam bentuk dan cara seperti ia dahulu.

Lalu (malaikat) berkata: "Aku orang miskin yang telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah menganugerahimu warna yang bagus, kulit yang indah serta harta benda, aku minta seekor unta untuk membantuku dalam perjalanan."

Orang itu berkata: "Masih banyak sekali hak-hak yang harus kupenuhi."

Maka malaikat itu berkata kepadanya: "Aku seperti mengenal kamu, bukankah kamu yang dahulu berpenyakit kulit belang yang manusia jijik kepadamu, serta yang dahulu fakir lalu diberi harta oleh Allah?"

Orang itu berkata: "Aku mewarisi harta ini secara turun-temurun."

Malaikat berkata: "Kalau kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi."

Setelah itu malaikat tadi mendatangi orang yang dahulu botak dalam bentuknya seperti dahulu lalu berkata kepadanya seperti apa yang dikatakannya kepada orang yang berkulit belang, dan orang itu menjawabnya seperti jawaban orang yang belang tadi. 

Maka malaikat berkata: "Jika kamu berdusta, semoga Allah menjadikan kamu seperti dahulu lagi."

Kemudian sesudah itu malaikat mendatangi orang yang dahulu buta dalam bentuk dan cara seperti dahulu.

Lalu (malaikat) berkata: "Aku orang miskin yang mengembara dan telah terputus seluruh sumber rezeki dalam perjalananku, maka pada hari ini tidak ada lagi pengharapan, kecuali kepada Allah dan kamu. Demi Tuhan yang telah memulihkan penglihatanmu, aku minta seekot kambing untuk membantuku dalam perjalanan."

Orang itu berkata: "Dahulu aku buta, lalu Allah memulihkan penglihatanku, maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu inginkan. Demi Allah aku tidak akan membebani kamu untuk mengembalikan sesuatu yang telah kamu ambil untuk Allah."

Maka malaikat berkata: "Peganglah hartamu itu semua, karena kamu sekalian hanya sekedar diuji, kamu telah diridai Tuhan, sedangkan kedua sahabatmu telah dimurkai Allah."

(Shahih Muslim)


Baca juga:


Sabtu, 25 Juni 2011

Silsilah Hadis Palsu dan Lemah tentang Bulan Ramadhan

"Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di bulan Ramadhan pasti ummatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya...." hadits ini panjang. (Kualitas Hadis: Maudhu'/palsu)


"Wahai manusia sungguh telah datang pada kalian bulan yang agung, bulan yang di dalamnya ada malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasanya sebagai kewajiban, dan shalat malamnya sebagai sunnat. Barangsiapa mendekatkan diri di dalamnya dengan suatu perkara kebaikan maka dia seperti orang yang menunaikan suatu kewajiban pada bulan lainnya.. dialah bulan yang awalnya itu rahmat, pertengahannya itu maghfirah/ampunan, dan akhirnya itu 'itqun minan naar/bebas dari neraka.." sampai selesai. (Kualitas hadis: sanadnya Dhaif/lemah)


"Berpuasalah maka kamu sekalian sehat." (Kualitas hadis: Dhaif/lemah)


“Orang yang berpuasa adalah (tetap) di dalam ibadah meskipun dia terbaring (tidur) diatas tempat tidurnya” (kualitas hadits:  DHA’IF/lemah)





Related Post:



Senin, 20 Juni 2011

Dalil tentang Perintah Memanjangkan Jenggot dan Memotong Kumis

Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot kalian panjang, dan potong tipislah kumis kalian!" (HR. Bukhori)

"Potong tipislah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian!" (HR. Bukhori)

“Selisilah Kaum Musyrikin, potong pendeklah kumis kalian, dan sempurnakanlah jenggot kalian!”. (HR. Muslim)

"Potonglah kumis kalian, biarkanlah jenggot kalian, dan selisihilah Kaum Majusi." (HR. Muslim)


Dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu: 
Kami (para sahabat) menanyakan: “Wahai Rosulullah, sungguh kaum ahli kitab itu (biasa) memangkas jenggot mereka dan memanjangkan kumis mereka?”. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: “Potonglah kumis kalian, dan biarkanlah jenggot kalian panjang, serta selisilah Kaum Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani)!”. (HR. Ahmad)

Ibnu Umar radhiallahu 'anhu mengatakan: 
“Sesungguhnya Rosululloh saw memerintahkan untuk memangkas tipis kumis dan membiarkan jenggot panjang." (HR. Muslim).

Jabir rhadhiallahu 'anhu mengatakan: 
“Sungguh kami (para sahabat), diperintah untuk memanjangkan jenggot dan mencukur kumis”. (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah). 

Dalam riwayat lain:
“Kami (para sahabat) membiarkan jenggot kami panjang, dan mencukur kumis” (HR. Abu Dawud)


Kisahnya dua utusan kisra (kaisar), berkata Zaid bin Habib :

Telah masuk dua utusan tersebut kepada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam dan sungguh keduanya telah mencukur jenggot dan memelihara kumisnya, Rasulullah memandang dengan benci kepada keduanya, Dan (Rasulullah) bersabda: Celakalah kalian berdua. Siapakah yang menyuruh kalian dengan ini.” Kedua orang tersebut menjawab : “Yang memerintahkan kami adalah rab kami (yaitu kaisar).” Maka bersabdalah Rasulullah saw : “Akan tetapi Rabbku memerintahkan untuk memelihara jenggotku dan memotong kumisku.” (HR. Ibnu Jarir)



Dan masih banyak hadist yang senada.  Untuk menghindari kebosanan maka cukuplah beberapa hadis di atas untuk mendasari perintah memelihara jenggot dan memotong kumis.

"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."  (QS 33 : 36)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An Nur : 63)

Catatan: Potong kumis ini maksudnya bukan dikerok yaaa.. tapi cuma dicukur. Jangan sampai tumbuh melewati garis bibir. Cukur kumis, rambut kemaluan, bulu ketiak (boleh cabut), maksimal 40 hari sekali.

Related post: