Selasa, 29 November 2011

Adab Bertamu: Ucap Salam, Dilarang Mengintip ke Dalam Rumah Orang

Kitab Adab
1. Meminta izin dengan ucapan salam, 3x tidak ada jawaban maka pulanglah
  • Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu, ia berkata:
    Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali. (Shahih Muslim No.4006)

  • Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari radhiallahu 'anhu bahwa:
    Ketika Abu Musa datang kepada Umar bin Khathab, ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abdullah bin Qais, tetapi tidak ada jawaban, maka sekali lagi ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abu Musa. Assalamu`alaikum ini Al-Asy`ari. Ketika ia berbalik hendak pulang, Umar muncul dan berkata: Kembali! Kembalilah kemari! Setelah Abu Musa. datang, Umar bertanya: Hai Abu Musa! Mengapa engkau cepat-cepat hendak pulang? Kami sedang melakukan suatu pekerjaan. Abu Musa. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: Minta izin itu tiga kali. Jika engkau mendapat izin, maka engkau boleh masuk, tetapi kalau tidak, maka pulanglah. (Shahih Muslim No.4010)
2. Makruh menjawab dengan kata "aku" bagi tamu ketika ditanya "siapa ini?"
  • Hadis riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu, ia berkata:
    Aku datang mengunjungi Nabi shalallahu 'alaihi wasallam lalu menyapa kemudian Nabi bertanya: Siapa ini? Aku menjawab: Aku. Nabi lalu keluar seraya berucap: Aku, aku!. (Shahih Muslim No.4011)
3. Haram mengintip ke dalam rumah orang lain
  • Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi radhiallahu 'anhu:
    Bahwa seorang lelaki mengintip pada lubang pintu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Ketika itu Rasulullah membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda: Seandainya aku tahu engkau memandangku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: Sesungguhnya disyariatkan minta izin (memasuki rumah) itu hanyalah untuk menghindari penglihatan. (Shahih Muslim No.4013)

  • Hadis riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu:
    Bahwa seseorang melongok dari salah satu bilik Nabi shalallahu 'alaihi wasallam kemudian Nabi beranjak menghampirinya dengan membawa anak panah bermata lebar. Aku seakan-akan melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengintai hendak menikamnya. (Shahih Muslim No.4015)

  • Hadis riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
    Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya. (Shahih Muslim No.4016)





Kamis, 10 November 2011

Kisah Seorang Pelacur Masuk Surga

“Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur (lalu diminumkan ke anjing itu). Dengan perbuatannya itu dosanya diampuni.” (HR. Bukhari)

------

Allah Maha Pengampun. Seorang wanita pelacur, artinya wanita ini hidup dari hasil berzina. Makan dan minum, membeli pakaian dan semua kebutuhannya dari hasil zina. Lantas kenapa wanita ini diampuni begitu saja?

Tidak ada hal sepele dalam syariat. Walaupun hal itu mudah dilakukan. Jangan kita meremehkan amal sholeh sekecil apapun, sekalipun hanya sebuah senyuman yang ikhlas kepada saudara kita. Bisa jadi amalan itu justru bernilai besar di sisi Allah, menjadi sebab rahmat Allah dan mengantarkan kita ke surga
 
Amal sholeh itu sekecil apapun akan memberatkan timbangan, bisa merubah kualitas istana surga, meninggikan derajat kita di akhirat, bahkan menambah bidadari yang menemani kita di surga, he..

Inilah qadarullah, Allah sang Maha Pemberi Berkah.. seorang pelacur dipertemukan dengan seekor anjing, kemudian selesai perkara akhiratnya. Allah akan mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki, sebesar apapun dosanya, sekalipun dosa itu dilakukan berulang-ulang. Tapi (hanya) dengan memberi minum anjing, dosanya diampuni, sekaligus mendapat tiket surga.

Hanya saja terkadang setan membuat syubhat bahwa hal kecil tidaklah penting. Apalagi jika tidak ada seorangpun yang melakukan, maka kita seolah malu juga melakukannya. Sehingga kita menyepelekan banyak hal. Padahal kita tidak tahu, bisa jadi hal kecil itu justru yang bernilai besar di sisi Allah azza wa jalla.

Banyak faedah yang bisa diambil dari hadist di atas. Seorang muslim tentunya benci terhadap perilaku maksiat, apalagi jika kemaksiatan tersebut sudah keterlaluan, kita akan marah. Marah karena Allah, membenci sesuatu karena Allah juga membenci sesuatu itu. 

Namun hendaknya kita juga tidak meremehkan seseorang hanya berdasarkan kasat mata, sekalipun pelacur (dan yang lainnya), siapa tahu orang itu ternyata suatu saat mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah. Dan hendaknya kita tidak meremehkan seseorang atas dasar dosa masa lalunya, siapa tahu orang itu ternyata masa lalunya sudah diampuni oleh Allah. Wallahu a'lam, hanya Allah yang mengetahui perkara ghaib. 


 Related post :
  1. Wanita Disiksa karena Membunuh Kucing !!
  2. Hadist Shahih tentang Perintah Membunuh Ular
  3. Hadist shahih :Hukum dan Perintah Membunuh Cicak

Jumat, 04 November 2011

Beberapa Hadist Shahih tentang Binatang - Sabung Ayam

Hewan
  1. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus. (HR. Muslim)
     
  2. Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis. (HR. Bukhari)
     
  3. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang mengadu domba antara hewan-hewan ternak. (HR. Abu Dawud)
     
  4. Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah. (HR. Bukhari)
     
  5. Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur (lalu diminumkan ke anjing itu). Dengan perbuatannya itu dosanya diampuni. (HR. Bukhari)

Selasa, 01 November 2011

Lewat Depan Orang Sholat dan Tentang Sutrah

Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya, maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya." Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: "(lebih baik berdiri) Empat puluh tahun."

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau, perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan."


Ngeri.. 
Tapi yang dimaksud "lewat" di sini adalah lewat di dalam/di sekitar area sujud seseorang saat menjalankan sholat. Adapun jika itu lewat di luar area sujud (baik di depan maupun samping) maka itu tidak mengapa. Oleh karenanya Nabi shalallahu 'alaihi wassalam memerintahkan kita untuk memakai sutrah, agar menutup kemungkinan seseorang lewat di depan kita saat sedang menjalankan sholat.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa para sahabat sholat di belakang tiang-tiang masjid, di belakang pohon, maupun di belakang tombak yang mereka tancapkan di antara area sujud, itulah sutrah. Oleh karenanya ketika kita melaksanakan sholat hendaknya mencari tiang-tiang masjid, menaruh tas, mepet ke dinding masjid di shaf terdepan, ataupun menjadikan orang yang di depan kita sebagai sutrah. 

Sering kita jumpai saudara kita sholat sunnah di tengah-tengah ruangan masjid, sedangkan shaf masih kosong tanpa sutrah, mungkin karena ketidaktahuannya (hadist tentang sutrah belum sampai kepadanya). Hal demikian yang membuka resiko kemungkinan orang lewat di area sujudnya.

Seorang muslim yang sudah sampai kepadanya tentang hadist sutrah dan mengetahui ancaman bagi orang yang melewati area sujud saat sholat, hendaknya berusaha menjalankan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wassalam yang mulia ini. 

Bagaimana seandainya ada orang yang akan lewat di depan kita saat kita sedang sholat?

Cara mencegah orang yang akan melewati area sujud, cukup dengan membentangkan tangan ke depan sehingga menghalangi jalannya. 

Adapun jika yang "lewat" adalah anak kecil, mendadak sambil berlari-larian, maka itu harap dimaklumi. Anak belum baligh berarti belum berakal, tidak perlu  "diperangi" seperti matan (teks/lafadz) dzahir hadist di atas. 

Namun alangkah lebih baik jika sang ayah memberikan pemahaman tentang sunnah sejak dini kepada anak-anaknya. Agar tidak mengganggu kekhusyu'an sholat berjama'ah. 

Lagipula sunnahnya anak mulai diajari sholat ketika berumur 7 tahun. Seharusnya ketika itu mereka sudah nalar. Sebagian Ulama bahkan menyarankan agar anak dibawah 7 tahun yang tidak bisa dikondisikan agar tidak dibawa ke masjid ataupun pengajian. Wallahu a'lam.



Related Post:
  1. Lari-larian Mendatangi Sholat Jamaah Saat Masbuk?
  2. Rapatkan Shaf Sholat Berjama'ah