Selasa, 07 April 2020

Riyadhus Shalihin - BAB Ikhlas dan Niat

BAB tentang IKHLAS DAN NIAT dalam segala Perbuatan, Perkataan dan Perilaku, baik Lahir maupun Batin

Allah ta'ala berfirman: “Mereka tidaklah diperintah kecuali menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus”. (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah ta'ala berfirman: “Tidaklah sampai kepada Ailah daging dan darah kurban itu, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah Taqwa kamu semua”. (QS. Al Haj: 37)

Allah ta'ala berfirman: “Katakanlah: Jika kamu sembunyikan, atau kamu tampakkan apa yang terkandung dalam dadamu niscaya Allah mengetahuinya”. (Ali Imran: 29)



(1). Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh 'Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul 'Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Adi bin Ka'ab bin Luayyi bin Ghalib Al Quraisy Al Adawi Radhiallahu 'anhu, ia berkata: 

Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya sah atau tidaknya semua amal itu tergantung pada niatnya. Dan apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu untuk Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrah karena keuntungan dunia yang dikejarnya atau karena perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya memperoleh apa yang dintatkan dalam hijrahnya itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)


(2). Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah Radhiallahu 'anha, ia berkata: 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Akan ada sekelompok pasukan yang akan menyerang Ka'bah. Maka tatkala mereka sampai di suatu tanah yang lapang maka dibinasakanlah mereka mulai dari yang terdepan sampai yang terbelakang. Aisyah bertanya “Wahai Rasulullah, bagaimana mereka semua dibinasakan mulai dari terdepan hingga yang terbelakang, padahal diantara mereka itu ada yang tidak ikut, yaitu orang-orang yang sedang di pasar dan orang yang tidak membantu mereka?”. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Mereka itu dibinasakan mulai dari yang terdepan sampai yang terbelakang kemudian mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing”. (HR. Bukhari dan Muslim)


(3). Dari Aisyah Radhiallahu 'anha ia berkata:

Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada hijrah lagi sesudah ditaklukkannya kota Makkah tetapi yang tetap ada adalah berjuang di jalan Allah dan niat untuk selalu berbuat baik. Oleh karena itu jika kamu dipanggil untuk berjuang maka berangkatlah”. (HR. Bukhari dan Muslim)


(4). Dari Abu Abdillah bin Jabir bin Abdillah Al Anshari Radhiallahu 'anhu ia berkata: 

Kami pernah bersama-sama dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu peperangan, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya di kota Madinah ada beberapa orang yang jika kamu melintasi jalan itu atau menyeberangi lembahnya maka mereka selalu mengikuti kamu. Tiada yang mampu mencegahnya kecuali sakit”. Pada suatu riwayat, “kecuali mereka selalu menyertaimu di dalam mencari pahala”. (HR. Muslim)


(5). Diriwayatkan dari Anas Radhiallahu 'anhu ia berkata: 

Kami bersama-sama dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kembali dari peperangan tabuk, lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya ada beberapa orang yang masih tertinggal di Madinah, dimana mereka senantiasa menyertai kami keluar masuk pedusunan dan menyeberangi lembah. Tiada yang mencegahnya kecuali hanyalah udzur”. (HR. Bukhari)


(6). Dari Abu Yazid Ma'an bin Yazid bin Al Akhnas dimana dia, bapaknya dan kakeknya merupakan sahabat Radhiallahu 'anhum, Ia (Ma'an bin Yazid) berkata: 

“Ayahku Yazid biasa mengeluarkan beberapa dinar (emas) untuk bersedekah, dan dinar itu dititipkan pada seseorang di masjid untuk diberikan kepada fakir miskin yang meminta-minta. Maka saya datang ke masjid dan meminta dinar itu. Kemudian sambil membawa dinar itu saya datang ke tempat ayah, lantas ayah berkata : “Demi Allah, bukan kepadamu sedekah itu saya berikan. Lalu peristiwa itu saya ajukan kepada Rasulullah, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Yazid, bagimu apa yang kau niatkan, dan bagimu wahai Ma'an kamu dapatkan apa yang kau ambil itu”. (HR Bukhari)


(7). Dari Abu Ishaq Sa'ad bin Abi Waqas Malik bin Uhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luayyi Al Qurasyi Az Zuhriyyi Radhiallahu 'anhu yaitu salah seorang diantara sepuluh orang yang dijamin masuk surga, ia berkata: 

“Ketika saya sakit pada musim haji wada', Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjengukku, lalu saya bertanya: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya ini sakit keras sebagaimana yang engkau lihat, sedangkan saya mempunyai harta cukup banyak sementara yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan, maka bolehkah saya bersedekah dua pertiga dari harta saya? 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Tidak boleh”. Saya bertanya: “setengah”? Beliau menjawab: “Tidak boleh”. Saya bertanya lagi: “Sepertiga, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Sepertiga itu sudah cukup banyak dan cukup besar. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada dalam keadaan miskin, hingga terpaksa meminta-minta kepada orang lain. 

Dan tiada kamu membelanjakan hartamu dalam sesuatu yang kau niatkan untuk keridhaan Allah, melainkan pasti kamu mendapatkan pahala dari-Nya, demikian pula nafkah yang kau berikan kepada istrimu."

Saya bertanya: “Ya Rasulullah, apakah saya akan segera berpisah dengan sahabat-sahabatku? 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab “Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu masih akan menambah amal yang kau niati untuk mencari ridha Allah sehingga derajat dari keluhuranmu terus bertambah. Dan kamu akan meninggal setelah kaum muslimin mendapat manfaat dari dirimu dan kaum yang lain (orang-orang kafir) menderita kerugian karenamu. 

Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, sempurnkanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang (ke kota Makkah). Tetapi yang kecewa adalah Sa'ad bin Khaulah (yang selalu dikasihi oleh Rasulullah) yang telah meninggal di Makkah". (HR. Bukhari, Muslim)


(8). Dari Abu Hurairah Abdur Rahman bin Sakhr Radhiallahu 'anhu berkata:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat wajahmu, tetapi Allah melihat hatimu”. (HR. Muslim)


(9). Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy'ari Radhiallahu 'anhu berkata:

“Suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena kesukuannya dan berperang karena riya': Manakah yang termasuk berperang di jalan Allah?“ 

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Barangsiapa yang berperang semata-mata untuk menegakkan kalimat Allah (agama Allah), maka itulah yang disebut perang di jalan Allah”. (HR. Bukhari, Muslim)


(10). Dari Abu Bakrah Nufai' bin Al Harits Ats Tsagabi Radhiallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

“Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang terbunuh keduanya dalam neraka”. 

Abu Bakrah bertanya: “Ya Rasulullah, yang membunuh sudah wajar bila dimasukkan dalam neraka, namun mengapa orang yang terbunuh juga masuk neraka?”. Jawab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam: “Karena ia berniat bersungguh-sungguh akan membunuh lawannya”. (HR. Bukhari dan Muslim)


(11). Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu ia berkata:

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Shalatnya seorang laki-laki dengan berjamaah pahalanya lebih banyak daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, dua puluh derajat. Yang demikian itu karena jika seseorang telah menyempurnakan wudhunya lalu pergi ke masjid, tiada tujuan lain kecuali hanya untuk shalat, maka setiap langkahnya akan diangkat satu derajat untuknya dan diampuni daripadanya satu dosa hingga ia masuk ke dalam masjid. 

Bila sudah berada dalam masjid maka ia dianggap melakukan shalat selama ia masih menantikan shalat berikutnya, dan Malaikat terus memintakan rahmat kepada salah seorang diantara kamu semua selama ia masih duduk di tempat shalatnya dan berdo'a: "Ya Allah., kasihanilah ia, ampunilah dosa-dosanya dan terimalah taubatnya" selama ia tidak berbuat gaduh dan tidak berhadats dalam masjid”. (HR Bukhari dan Muslim)


(12). Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muttalib Radhiallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dimana beliau menceritakan sesuatu yang diterimanya dari Allah, beliau bersabda: 

“Sesungguhnya Allah mencatat amal-amal kebaikan dan amal-amal kejahatan, kemudian menjelaskan keduanya. Barangsiapa berniat untuk melakukan kebaikan, lalu tidak dilaksanakannya maka Allah mencatat baginya satu kebaikan. Dan Barangsiapa berniat melakukan kebaikan, lalu dapat mengerjakannya maka ia akan mendapat sepuluh kebaikan, mungkin ditambah hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih dari itu. Sebaliknya, siapa yang berniat untuk melakukan kejahatan tetapi tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan. Dan Barangsiapa yang berniat melakukan kejahatan lalu mengerjakannya maka Allah akan mencatat baginya satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim).


(13). Dari Abu Abdur Rahman Abdullah bin Umar bin Khattab Radhiallahu 'anhu ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: 

“Pada masa sebelum kamu ada tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam di dalam gua. Tiba-tiba ketika mereka sedang dalam gua itu, jatuhlah sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu gua tersebut sehingga mereka tidak dapat keluar. Salah seorang diantara mereka berkata, “Sesungguhnya tidak ada orang yang dapat menyelamatkan kita semua kecuali kita semua berdoa kepada Allah dengan menyebut amal-amal shaleh yang pernah kita perbuat”. 

Salah seorang dari mereka berkata: Ya, Allah, dahulu saya mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua renta, dan saya sudah terbiasa tidak memberi minuman susu seorangpun sebelum keduanya (yaitu ayah ibuku), baik pada keluarga ataupun hamba sahaya. Maka pada suatu hari saya mencari kayu dan terlambat pulang sehingga keduanya kutemui sudah tidur pulas. Saya terus memerah susu untuk persediaan minum keduanya. Oleh karena kudapatkan keduanya tidur, maka saya enggan untuk membangunkannya dan sayapun tidak memberi susu kepada keluarga dan budak saya sebelum saya memberi minum kepada kedua orang tua saya. Maka kutunggu keduanya hingga terbit fajar dan akhirnya bangunlah keduanya sehingga meminum susu yang saya perahkan itu. Padahal semalaman itu juga anak-anakku menangis terisak-isak di dekat kakiku. Ya Allah, jika saya berbuat demikian karena benar-benar mengharapkan keridhaan-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”, Maka saat itu bergeserlah batu itu, hanya saja mereka belum bisa keluar. 

Orang yang kedua dari mereka berdoa: “Ya, Allah sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai”. Pada riwayat lain dikatakan: “saya sangat mencintai saudara sepupuku itu sebagaimana lazim seorang laki-laki mencintai wanita, lalu saya berkeinginan untuk berbuat zina kepadanya, tapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan sehingga ia datang kepadaku, maka saya serahkan kepadanya seratus dinar dengan janji ia sanggup menyerahkan dirinya untuk saya perlakukan sesuai dengan keinginan saya”. Pada riwayat lain dikatakan: “Ketika saya berada diantara kedua kakinya ia (wanita) itu berkata: “Takutlah engkau kepada Allah dan jangan kau pecahkan selaput daraku kecuali dengan jalan yang halal. Maka saya segera bangun daripadanya padahal saya sangat mencintainya dan saya relakan dinar yang telah saya berikan kepadanya itu. Ya Allah jika saya berbuat demikian semata-mata mengharapkan keridhaan-Mu. maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”. Maka bergeserlah batu itu menyisih sedikit, tetapi mereka belum juga dapat keluar dari gua itu. 

Orang yang ketiga (dari mereka) berkata: “Ya Allah, dahulu saya sebagai majikan, mempunyai banyak karyawan. Semua karyawan kami beri gaji dengan sempurna kecuali seorang tidak sabar menunggu untuk mengambilnya. Lalu gaji orang yang tidak diambil itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Setelah beberapa tahun dia datang kepada saya untuk mengambil gajinya yang dahulu ditinggalkan seraya berkata: “Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu “. Maka saya berkata. “Semua kekayaan yang ada dihadapanmu meliputi onta, sapi, kambing dan orang yang menggembalakannya adalah gajimu”. Orang itu berkata: “Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan aku”. Saya menjawab. “Saya tidak mempermainkanmu”. Lalu orang itupun mengambil seluruh harta yang ada di hadapannya tanpa meninggalkan sedikitpun. Ya Allah, jika saya berbuat demikian karena mengharap ridha-Mu maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini”. Maka dengan tiba-tiba menyisihlah batu itu sehingga mereka semua bisa keluar dengan selamat”. (HR, Bukhari dan Muslim)

Riyadhus Shalihin - BAB 2 (Taubat) - i

Para Ulama berpendapat bahwa bertaubat dari perbuatan dosa hukumnya wajib. Yang demikian ini bila dosa yang dilakukannya itu tidak ada kaitannya dengan sesama manusia, artinya langsung berhubungan dengan Allah. Maka cara bertaubatnya harus memenuhi tiga syarat yaitu:

1. Menghentikan perbuatan dosa itu.
2. Menyesal atas semua perbuatannya.
3. Niat bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Jika tidak memenuhi tiga persyaratan tersebut maka taubatnya tidak diterima.

Dan bila perbuatan dosanya itu menyangkut sesama manusia maka taubatnya harus memenuhi empat syarat, yaitu tiga syarat tersebut di atas ditambah satu syarat lagi yaitu: menyelesaikan urusannya dengan orang yang berhak dengan meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Jika itu ada kaitannya dengan masalah harta, maka harus mengembalikannya. Dan jika dosa itu ada kaitannya dengan masalah sumpah atau tuduhan maka taubatnya ia harus minta maaf. Dan jika dosanya itu ada kaitannya dengan masalah umpat mengumpat, maka taubatnya adalah harus minta dihalalkannya. 

Seseorang yang berbuat dosa harus segera bertaubat dari semua dosanya. Makanya jika seseorang bertaubat hanya sebagian dari dosanya saja, maka dosa yang lain masih tetap tidak diampuni.

Banyak sekali ayat Al Qur’an, hadits Nabi dan ijma' ulama yang mewajibkan kita untuk bersegera bertaubat, diantaranya adalah seperti dibawah ini:

Allah berfirman: “Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung”. (QS. An Nur: 31) 

Allah ta'ala berfirman: “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, lalu bertaubatlah kamu semua kepada-Nya”. (QS. Hud: 3) 

Allah ta'ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu semua kepada Allah dengan sebenar-benar taubat”. (QS. At Tahrim: 8)

Selasa, 29 November 2011

Adab Bertamu: Ucap Salam, Dilarang Mengintip ke Dalam Rumah Orang

Kitab Adab
1. Meminta izin dengan ucapan salam, 3x tidak ada jawaban maka pulanglah
  • Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri radhiallahu 'anhu, ia berkata:
    Aku sedang duduk dalam majlis orang-orang Ansar di Madinah lalu tiba-tiba Abu Musa datang dengan ketakutan. Kami bertanya: Kenapa engkau? Ia menjawab: Umar menyuruhku untuk datang kepadanya. Aku pun datang. Di depan pintunya, aku mengucap salam tiga kali tetapi tidak ada jawaban, maka aku kembali. Tetapi, ketika bertemu lagi, ia bertanya: Apa yang menghalangimu datang kepadaku? Aku menjawab: Aku telah datang kepadamu. Aku mengucap salam tiga kali di depan pintumu. Setelah tidak ada jawaban, aku kembali. Sebab, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian minta izin tiga kali dan tidak mendapatkan jawaban, maka hendaklah ia kembali. (Shahih Muslim No.4006)

  • Hadis riwayat Abu Musa Al-Asy`ari radhiallahu 'anhu bahwa:
    Ketika Abu Musa datang kepada Umar bin Khathab, ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abdullah bin Qais, tetapi tidak ada jawaban, maka sekali lagi ia mengucap: Assalamu`alaikum, ini Abu Musa. Assalamu`alaikum ini Al-Asy`ari. Ketika ia berbalik hendak pulang, Umar muncul dan berkata: Kembali! Kembalilah kemari! Setelah Abu Musa. datang, Umar bertanya: Hai Abu Musa! Mengapa engkau cepat-cepat hendak pulang? Kami sedang melakukan suatu pekerjaan. Abu Musa. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: Minta izin itu tiga kali. Jika engkau mendapat izin, maka engkau boleh masuk, tetapi kalau tidak, maka pulanglah. (Shahih Muslim No.4010)
2. Makruh menjawab dengan kata "aku" bagi tamu ketika ditanya "siapa ini?"
  • Hadis riwayat Jabir bin Abdullah radhiallahu 'anhu, ia berkata:
    Aku datang mengunjungi Nabi shalallahu 'alaihi wasallam lalu menyapa kemudian Nabi bertanya: Siapa ini? Aku menjawab: Aku. Nabi lalu keluar seraya berucap: Aku, aku!. (Shahih Muslim No.4011)
3. Haram mengintip ke dalam rumah orang lain
  • Hadis riwayat Sahal bin Saad As-Saidi radhiallahu 'anhu:
    Bahwa seorang lelaki mengintip pada lubang pintu Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Ketika itu Rasulullah membawa sisir yang beliau gunakan untuk menggaruk kepala. Pada waktu Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda: Seandainya aku tahu engkau memandangku tentu aku tusukkan sisir ini ke matamu. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam juga bersabda: Sesungguhnya disyariatkan minta izin (memasuki rumah) itu hanyalah untuk menghindari penglihatan. (Shahih Muslim No.4013)

  • Hadis riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhu:
    Bahwa seseorang melongok dari salah satu bilik Nabi shalallahu 'alaihi wasallam kemudian Nabi beranjak menghampirinya dengan membawa anak panah bermata lebar. Aku seakan-akan melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam mengintai hendak menikamnya. (Shahih Muslim No.4015)

  • Hadis riwayat Abu Hurairah radhiallahu 'anhu:
    Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: Barang siapa melongok ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka mereka boleh mencungkil matanya. (Shahih Muslim No.4016)





Kamis, 10 November 2011

Kisah Seorang Pelacur Masuk Surga

“Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur (lalu diminumkan ke anjing itu). Dengan perbuatannya itu dosanya diampuni.” (HR. Bukhari)

------

Allah Maha Pengampun. Seorang wanita pelacur, artinya wanita ini hidup dari hasil berzina. Makan dan minum, membeli pakaian dan semua kebutuhannya dari hasil zina. Lantas kenapa wanita ini diampuni begitu saja?

Tidak ada hal sepele dalam syariat. Walaupun hal itu mudah dilakukan. Jangan kita meremehkan amal sholeh sekecil apapun, sekalipun hanya sebuah senyuman yang ikhlas kepada saudara kita. Bisa jadi amalan itu justru bernilai besar di sisi Allah, menjadi sebab rahmat Allah dan mengantarkan kita ke surga
 
Amal sholeh itu sekecil apapun akan memberatkan timbangan, bisa merubah kualitas istana surga, meninggikan derajat kita di akhirat, bahkan menambah bidadari yang menemani kita di surga, he..

Inilah qadarullah, Allah sang Maha Pemberi Berkah.. seorang pelacur dipertemukan dengan seekor anjing, kemudian selesai perkara akhiratnya. Allah akan mengampuni siapa saja yang Dia kehendaki, sebesar apapun dosanya, sekalipun dosa itu dilakukan berulang-ulang. Tapi (hanya) dengan memberi minum anjing, dosanya diampuni, sekaligus mendapat tiket surga.

Hanya saja terkadang setan membuat syubhat bahwa hal kecil tidaklah penting. Apalagi jika tidak ada seorangpun yang melakukan, maka kita seolah malu juga melakukannya. Sehingga kita menyepelekan banyak hal. Padahal kita tidak tahu, bisa jadi hal kecil itu justru yang bernilai besar di sisi Allah azza wa jalla.

Banyak faedah yang bisa diambil dari hadist di atas. Seorang muslim tentunya benci terhadap perilaku maksiat, apalagi jika kemaksiatan tersebut sudah keterlaluan, kita akan marah. Marah karena Allah, membenci sesuatu karena Allah juga membenci sesuatu itu. 

Namun hendaknya kita juga tidak meremehkan seseorang hanya berdasarkan kasat mata, sekalipun pelacur (dan yang lainnya), siapa tahu orang itu ternyata suatu saat mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah. Dan hendaknya kita tidak meremehkan seseorang atas dasar dosa masa lalunya, siapa tahu orang itu ternyata masa lalunya sudah diampuni oleh Allah. Wallahu a'lam, hanya Allah yang mengetahui perkara ghaib. 


 Related post :
  1. Wanita Disiksa karena Membunuh Kucing !!
  2. Hadist Shahih tentang Perintah Membunuh Ular
  3. Hadist shahih :Hukum dan Perintah Membunuh Cicak

Jumat, 04 November 2011

Beberapa Hadist Shahih tentang Binatang - Sabung Ayam

Hewan
  1. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarang membunuh hewan dengan mengurungnya dan membiarkannya mati karena lapar dan haus. (HR. Muslim)
     
  2. Allah melaknat orang yang menyiksa hewan dan memperlakukannya dengan sadis. (HR. Bukhari)
     
  3. Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang mengadu domba antara hewan-hewan ternak. (HR. Abu Dawud)
     
  4. Seorang wanita masuk neraka karena mengikat seekor kucing tanpa memberinya makanan atau melepaskannya mencari makan dari serangga tanah. (HR. Bukhari)
     
  5. Seorang wanita pelacur melihat seekor anjing di atas sumur dan hampir mati karena kehausan. Lalu wanita itu melepas sepatunya, diikatnya dengan kerudungnya dan diambilnya air dari sumur (lalu diminumkan ke anjing itu). Dengan perbuatannya itu dosanya diampuni. (HR. Bukhari)

Selasa, 01 November 2011

Lewat Depan Orang Sholat dan Tentang Sutrah

Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya, maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya." Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: "(lebih baik berdiri) Empat puluh tahun."

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda: 
"Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang batas yang membatasinya dari orang-orang, lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau, perangilah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan."


Ngeri.. 
Tapi yang dimaksud "lewat" di sini adalah lewat di dalam/di sekitar area sujud seseorang saat menjalankan sholat. Adapun jika itu lewat di luar area sujud (baik di depan maupun samping) maka itu tidak mengapa. Oleh karenanya Nabi shalallahu 'alaihi wassalam memerintahkan kita untuk memakai sutrah, agar menutup kemungkinan seseorang lewat di depan kita saat sedang menjalankan sholat.

Banyak riwayat menyebutkan bahwa para sahabat sholat di belakang tiang-tiang masjid, di belakang pohon, maupun di belakang tombak yang mereka tancapkan di antara area sujud, itulah sutrah. Oleh karenanya ketika kita melaksanakan sholat hendaknya mencari tiang-tiang masjid, menaruh tas, mepet ke dinding masjid di shaf terdepan, ataupun menjadikan orang yang di depan kita sebagai sutrah. 

Sering kita jumpai saudara kita sholat sunnah di tengah-tengah ruangan masjid, sedangkan shaf masih kosong tanpa sutrah, mungkin karena ketidaktahuannya (hadist tentang sutrah belum sampai kepadanya). Hal demikian yang membuka resiko kemungkinan orang lewat di area sujudnya.

Seorang muslim yang sudah sampai kepadanya tentang hadist sutrah dan mengetahui ancaman bagi orang yang melewati area sujud saat sholat, hendaknya berusaha menjalankan sunnah Nabi shalallahu 'alaihi wassalam yang mulia ini. 

Bagaimana seandainya ada orang yang akan lewat di depan kita saat kita sedang sholat?

Cara mencegah orang yang akan melewati area sujud, cukup dengan membentangkan tangan ke depan sehingga menghalangi jalannya. 

Adapun jika yang "lewat" adalah anak kecil, mendadak sambil berlari-larian, maka itu harap dimaklumi. Anak belum baligh berarti belum berakal, tidak perlu  "diperangi" seperti matan (teks/lafadz) dzahir hadist di atas. 

Namun alangkah lebih baik jika sang ayah memberikan pemahaman tentang sunnah sejak dini kepada anak-anaknya. Agar tidak mengganggu kekhusyu'an sholat berjama'ah. 

Lagipula sunnahnya anak mulai diajari sholat ketika berumur 7 tahun. Seharusnya ketika itu mereka sudah nalar. Sebagian Ulama bahkan menyarankan agar anak dibawah 7 tahun yang tidak bisa dikondisikan agar tidak dibawa ke masjid ataupun pengajian. Wallahu a'lam.



Related Post:
  1. Lari-larian Mendatangi Sholat Jamaah Saat Masbuk?
  2. Rapatkan Shaf Sholat Berjama'ah

Sabtu, 02 Juli 2011

Hadist shahih Tentang Talqin Mayit

Sebelum Meninggal

Rasulullah salallahu 'alaihi wassalam bersabda:
“Talqinlah orang yang akan meninggal dunia diantara kalian dengan La Ilaha Illallah. Barang siapa yang akhir ucapannya saat akan meninggal dunia La Ilaha Illallah niscaya dia akan masuk surga suatu ketika, meskipun sebelumnya dia tertimpa sesuatu.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Bazzar)

Dari Anas radhiallahu 'anhu berkata :
Rasulullah pernah menjenguk salah seorang sahabat anshor. Beliau bersabda: "Wahai paman, katakanlah La Ilaha Illallah.” (HR. Ahmad)

Sesudah Dikuburkan

Dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu berkata : 
"Apabila Rosululloh telah selesai menguburkan mayit, maka beliau berdiri padanya dan bersabda: Mohonlah ampun untuk saudara kalian, dan mohonlah kemantapan baginya, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Dawud)

------

Jadi, Sebenarnya perkara talqin adalah BUKAN dengan membacakan surat yasin sebelum meninggal, melainkan dengan membimbing mengucapkan kalimat tauhid.

Dan, BUKAN dengan mengajari (mendikte) mayit untuk menjawab pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nakir setelah dikuburkan (Allah adalah Tuhanku.. dst), melainkan dengan memohonkan ampun kepada Allah dan mendoakan agar si mayit mempunyai kemantapan (keteguhan) saat menghadapi fitnah kubur, yaitu saat menjawab pertanyaan Malaikat Mungkar dan Nakir di alam barzakh. Wallahu a'lam.